Usaha Kreatif Sepatu Lukis

Berawal dari kecintaannya dengan dunia lukis dan hobinya mengoleksi berbagai macam jenis sepatu, muncullah ide untuk membuat sesuatu yang berbeda. Andina Nabila Irvani atau yang biasa disapa Dina mencoba menyalurkan hobi melukisnya pada sepatu koleksinya.

“Sebenarnya ide ini datang dari kakak saya. Dia suka sekali bisnis sejak SMA. Sedangkan saya, sudah hobi melukis sejak lama. Sudah les melukis juga sejak masih Taman Kanak-kanak. Jadilah kita mencoba bisnis sepatu lukis.

Akhirnya pada Agustus 2008, dengan modal awal yang terbilang kecil yaitu sekira Rp1 juta, Dina mulai mencoba menuangkan ide lukisannya pada media sepatu kanvas.

Bisnis yang baru berkembang memang tidak selalu berjalan mulus. Dirinya sempat mengalami kesulitan dengan stok sepatu polos yang kadang jumlahnya terbatas di pasaran.  Dirinya berfikir mengapa tidak memproduksi sendiri sepatu polos tersebut. Bahkan, dengan memproduksi sendiri sepatu polos tersebut dirinya bisa mendesain sendiri sepatunya Sehingga mempunya bentuk dan jenis yang berbeda yang sudah ada di pasaran.

Salah satu cara jitu yang digunakannya untuk memasarkan produknya adalah dengan menggunakan ranah online. Sebulan setelah bisnisnya ini dimulai, Dina menggunakan blog sebagai katalog dalam usahanya. Namun saat ini, karena modal sudah semakin bertambah, dibuatlah situs berbasis web sebagai media untuk memasarkan produknya yang dapat diakses di www.sepatulukis.com.

Selain itu, cara lain yang digunakannya agar sepatunya berbeda dengan yang lain adalah dengan model khusus yang diproduksinya sendiri. Karena yang dia tau, saat ini banyak bissis sejenis yang sudah mulai menjamur dipasaran. Namun dirinya yakin, dengan 11 pasang model sepatu yang telah diciptakannya, memiliki perbedaan dan kualitas dengan pengusaha sejenis yang lain.

Saat ini, pendapatannya bisa dibilang sangat lumayan. Dengan omset perbulan mencapai Rp10-22 juta dan sudah mempekerjakan empat orang karyawan, Dina semakin bersemangat untuk terus mengembangkan bisnisnya tersebut. Diantaranya mencoba media lain seperti kaos, tas, chasing handphone, serta yang saat ini sedang dalam tahap uji coba adalah melukis dengan media dompet.

“Sebulan pertama, untungnya hanya Rp2-3 juta. Namun, di bulan kelima, ternyata bisa langsung berkembang pesat, dengan keuntungan hingga Rp20 juta,” ungkapnya.

Per-harinya, rata-rata sepatu yang berhasil dijualnya mencapai 50-100 pasang sepatu, dengan pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara. Adapun harga per-pasangnya ditawarkan mulai dari Rp110-260 ribu. Untuk Indonesia, peminat terbanyak berasal dari pulau Kalimantan dan Sumatera. Sementara itu, pengiriman juga sudah merambah ke Brunei, Australia, Singapura, dan Bangkok.

“Waktu itu ada yang pesan juga dari Amerika sampai 100 pasang. Saya sudah oke dan menyanggupi. Tapi ternyata ongkos kirim kesana mahal sekali, dua kali lipat dari harga separtu, akhirnya cancel semua,” ungkapnya lagi.

Untuk lebih menjaga merk dan keaslian sepatu buatannya, sejak 2010 lalu, Dina telah mendaftarkan “SLIGHT” sebagai brand atas sepatunya di Hak Atas kekayaan Intelektual (HAKI).

Dari bisnis yang menjanjikan ini, mahasiswi semester lima di sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta ini mampu mempekerjakan empat orang pegawai. Yang mana pegawainya tersebut di rekrutnya dari tetangga sekitar. Selain itu, bisnis ini tidak lagi membuatnya menggantungkan uang jajan dari orang tuanya.

Dina memberikan tips khusus untuk memulai suatu usaha, yaitu mulailah dengan apa yang kita suka. “Mulai dengan sesuatu sesuatu yang kamu suka, misalnya hobby, diexplore lagi dan buat sesuatu yang berbeda dari produk/jasa yang sudah ada. jangan takut dengan resiko yang belum pasti terjadi, karena jika ada niat pasti semua masalah dalam bisnis bisa terselesaikan. Patikan juga, kita bisa konsultasi kepada orang yang sudah berpengalaman dengan dunia bisnis,” ungkapnya.

Dengan motto hidupnya “I can achieve anything I want in life if I have the will” Dina berkeinginan suatu hari nanti bisa semakin memperbesar usahanya, dan memiliki butik sepatu buatannya yang tersebar diseluruh kota di Indonesia. Dan terus menciptakan ide kreatif dan tentunya berbeda dengan yang lain.

Siswadi, Mantan Pengamen yang Sukses Membuka Bimbel

Siswadi, pemilik Bimbingan Belajar Solusi, ternyata sudah hidup di jalanan sejak usia 8 tahun. Ia pernah mengamen di Semarang dan di terminal Pulo Gadung, Jakarta. Dari hasil mengamen, ia bisa menyelesaikan sekolah hingga SMU. Kini, ia sudah memiliki 45 cabang bimbel di Jabodetabek dengan omzet Rp 400 juta per bulan.

Salah satu cita-cita setiap orang tua adalah memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. Karena itu, para orang tua rela merogoh kocek lebih dalam agar anaknya memperoleh pelajaran tambahan di luar sekolah lewat bimbingan belajar (bimbel).

Siswadi melihat perilaku para orang tua itu sebagai peluang bisnis. Ia mendirikan usaha bimbingan belajar (bimbel) bernama Solusi di Matraman, Jakarta, pada tahun 2008 silam.Saat ini, bimbel Solusi terus berkembang dan memiliki 45 cabang yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Dari seluruh cabangnya tersebut, Siswadi mampu meraih omzet hingga Rp 400 juta per bulan.

Memiliki usaha bimbel yang sukses belum membuat Siswadi puas. Keuntungan bisnis bimbel ia putar di bisnis restoran. Kini, Siswadi sudah mempunyai tujuh restoran dengan laba bersih Rp 49 juta per bulan.Namun, semua kesuksesan itu bukan jatuh dari langit. Bisnis bimbel dan restoran Siswadi juga bukan bisnis warisan, lo. Laki-laki kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, ini membutuhkan waktu panjang untuk membangun bisnis bimbel dan restoran.

Siswadi lahir dan besar dari keluarga yang serbakekurangan. Tapi, Siswadi yang ditinggal pergi begitu saja oleh ayahnya pada usia lima tahun itu memiliki semangat besar untuk mengubah nasib.Sewaktu duduk di kelas III SD, Siswadi sempat berusaha mencari ayahnya ke Semarang. Karena tidak punya kerabat, Siswadi telantar dan menjadi pengamen untuk mendapatkan sesuap nasi di kota itu.Sembari mengamen, Siswadi tetap mencari kabar tentang sang ayah. Tapi, akhirnya, ia menyerah dan kembali ke Purwodadi. Setelah beberapa lama di rumah, Siswadi memutuskan untuk merantau ke Jakarta dengan naik kereta api. “Karena tak mempunyai tiket, saya diturunkan di sawah,” kenang Siswadi.

Tidak patah arang, Siswadi berjalan kaki menyusuri sawah hingga bertemu dengan terminal bus. Dengan modal mengamen, Siswadi sampai di terminal Pulo Gadung, Jakarta. “Agar tetap hidup, saya mengamen di terminal itu,” jelas Siswadi.

Hidup di jalanan membuat Siswadi berkenalan dengan banyak orang. Ia bahkan pernah ikut demonstrasi di tahun 1998 demi mendapatkan sebungkus nasi. Karena sering demonstrasi, Siswadi terdampar di markas kelompok mahasiswa proreformasi bernama Forum Kota (Forkot).Siswadi pun akhirnya menetap di markas Forkot itu sembari ikut sekolah kejar Paket A, setara dengan SD. Setelah lulus, Siswadi meninggalkan Forkot dan melanjutkan sekolah ke SMP.

Karena tidak punya tumpuan, Siswadi kembali mengamen untuk mencari sesuap nasi dan juga biaya sekolah. Bahkan terkadang, ia meminta uang secara paksa kepada murid lain. “Untungnya kepala sekolah berbaik hati dan membebaskan saya dari SPP,” kata dia.Ketika ia duduk di bangku SMU, Siswadi juga bekerja keras di sebuah persewaan game untuk membiayai sekolah. Selain itu, ia aktif di kegiatan nasyid SMU, bahkan sempat menjadi juara antar-SMU. “Sejak itu, saya mulai tenang dan tidak nakal,” ungkap Siswadi.

Lulus SMU, Siswadi sempat kuliah di Universitas Bhayangkara. Tapi, kemudian, ia memutuskan bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah lembaga bimbel. Di tempat bimbel itulah Siswadi belajar seluk-beluk usaha bimbel. Berbekal pengalaman itu, ia mengajak teman-temannya membuka bimbel sendiri pada 2008.

Dengan memanfaatkan rumah salah seorang temannya, Siswadi mengeluarkan kocek Rp 300.000 untuk perlengkapan bimbel. “Saya dapat murid 95 siswa saat itu,” kata Siswadi. Dua siswa dari seluruh siswa didikannya itu lolos seleksi program pertukaran pelajar Indonesia-Jerman. Setelah itulah, bimbel Solusi diincar banyak siswa. Apalagi dari sisi bayaran, bimbel Solusi menawarkan paket hemat yang terjangkau bagi kalangan bawah.

Dalam waktu tiga tahun, bimbel Solusi berkembang menjadi 45 cabang dengan jumlah karyawan 500 orang. Setelah bimbel berjalan, Siswadi menyempatkan diri meneruskan kuliah di universitas yang berbeda.

Dengan segmen menengah ke bawah, bimbel Bintang Solusi Mandiri berusaha menarik biaya belajar yang murah. meski murah, Siswadi tetap memberikan standar yang tinggi untuk kurikulum dan pelajaran yang diberikan. Karena itu, Solusi terus berkembang dan tak hanya diminati kelas bawah saja.

Tekad untuk terus maju dan berhasil membuat Siswadi tak pernah menyerah. Setelah menyerap pengalaman dan ilmu dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran di sebuah bimbingan belajar, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Dia lalu mengajak lima orang temannya membuka bisnis bimbingan belajar (bimbel) di daerah Matraman, Jakarta. Tekad Siswadi membentuk bimbel sendiri tak sekadar untuk mencari penghasilan. Siswadi juga ingin membuktikan bahwa bimbel itu hak semua murid dari semua status sosial.

Itulah sebabnya, dalam mengelola bimbel, Siswadi berusaha menjangkau murid SD dan SMP dari kalangan menengah bawah dengan menawarkan biaya murah.Tapi perjuangan itu memang tak mudah. Siswadi mengaku kesulitan dalam mencari tempat usaha di saat awal mendirikan bimbel. Keterbatasan modal membuatnya tidak bisa menyewa tempat strategis. Siswadi pun harus puas bimbel dibuka di rumah kosong milik temannya di bilangan Matraman.

Ketika awal buka, sebanyak 98 murid SD menjadi siswa pertama bimbel Solusi. ”Alhamdulillah semuanya lulus masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan dua di antaranya berhasil ikut pertukaran pelajar ke Jerman,” kenangnya.

Dia banyak menggunakan insting dalam memilih pelajaran. Dan ternyata insting Siswadi memang jitu. Sebab banyak siswa yang mengatakan bahwa yang diajarkan di Solusi banyak yang keluar saat ujian. “Yang menurut saya soalnya sulit dan kompleks kita ajarkan ke siswa,” jelasnya.

Tapi itu dulu. Setelah bisnis kian membesar, Siswadi tak mau lagi menggunakan insting untuk membantu belajar anak didiknya. Solusi kini sudah punya tenaga kurikulum yang menyusun soal dan materi pelajaran yang dia seleksi dengan ketat.

Alhasil, dengan kurikulum yang tersusun baik dan banyaknya bukti kurikulum itu sukses, membuat Solusi semakin terkenal. Jika pada awalnya Solusi mentargetkan anak didik dari kalangan menengah ke bawah, saat ini siswa yang bergabung juga banyak dari kalangan atas. “Tiga tahun lalu kami memang fokus anak kurang mampu, sekarang kami juga menjangkau kalangan kelas atas,” kata Siswadi.

Walau sudah merambah segmen menengah atas, Siswadi tetap mematok tarif murah Rp 500.000 per semester. “Itu menjadi daya tarik tersendiri, sebab walaupun murah namun materi yang diajarkan berkualitas,” klaim Siswadi.

Dengan tarif yang terjangkau, siswa juga akan mendapatkan modul belajar, buku pengembangan, serta tempat belajar ber-AC. Siswa juga memperoleh training atau seminar motivasi yang berlangsung di tengah atau akhir semester.

Siswadi menjamin bahwa kualitas pembelajaran di Solusi terstandar dengan baik. Dengan menerapkan konsep belajar team best learning plus setiap kelas hanya berisi 10 siswa. Modul pembelajaran yang diberikan juga ringkas dan mudah dimengerti.

Beragam strategi itu juga menggiring Siswadi jadi penerima penghargaan penyelenggara bimbel terbaik versi majalah bisnis nasional pada 2009 silam. Penghargaan itu didapatkan berkat peningkatan jumlah siswa yang mencapai 100 persen tiap semester.

Agar bisnis bimbelnya terus berkembang, Siswadi kemudian mewaralabakan Solusi. “Kami ingin mengembangkan bimbel Solusi ke seluruh Indonesia,” katanya.

Saat ini bimbel Solusi telah memiliki 45 cabang dan mitra di seluruh Indonesia dengan total murid sekitar 7.000 orang. Karyawan yang bekerja di Solusi juga sudah mencapai 470 orang. Dengan jumlah cabang tersebut, omzet yang diperoleh setiap bulan bisa mencapai Rp 400 juta.

Namun demikian, sukses yang diraih Siswadi tidak menghilangkan kenangan saat dia harus berjuang menjadi pengamen di jalanan. Sebagai wujud syukur atas segala suksesnya sekarang ini, saat ini Siswadi memberikan kursus gratis bagi anak yatim piatu. “Di balik kesuksesan pasti ada hak orang lain,” katanya.

Merambah bisnis kuliner

Setelah sukses membangun usaha bimbingan belajar (bimbel) Solusi Bintang Mandiri, tidak membuat Siswadi berpuas diri. Mantan pengamen jalanan di Terminal Pulo Gadung itu bahkan kian getol mencari peluang bisnis baru. Bidang usaha baru yang dilirik Siswadi adalah bisnis kuliner.

Bersama lima orang temannya, pada 2010 lalu, Siswadi membuka restoran dengan modal Rp 50 juta. Pertama kali, ia membuka restoran itu di Ciputat, Banten, tidak jauh dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Begitu dibuka, restoran tersebut ternyata mampu menggaet banyak pelanggan yang kebanyakan berstatus mahasiswa. Tidak hanya menjadi tempat makan saja, restoran Siswadi juga sering menjadi tempat nongkrong mahasiswa.

Karena pasarnya mahasiswa, Siswadi sengaja menyajikan menu murah seperti laiknya mengudap di warung tegal (warteg). Dengan isi kantong Rp 5.000 saja, pelanggan sudah bisa makan dengan kenyang. Namun, demi kenyamanan Siswadi menerapkan layanan kelas restoran.

Tengok saja ruang restoran yang terkesan mewah karena ber-AC dan dilengkapi dengan teve layar datar. Tak hanya itu, restoran yang diberi nama Rest Door itu dilengkapi perangkat audio yang tak henti bersenandung saat pelanggan melahap hidangan. “Konsep ini memadukan warteg dengan restoran berbintang,” kata Siswadi.

Perkawinan warteg dengan restoran itu pun menjadi kunci sukses bisnis restoran Siswadi. “Warteg punya keunggulan yaitu murah, ini penting untuk diadopsi,” kata Siswadi.

Tidak cukup setahun, Siswadi memutuskan menambah cabang. Kali ini, ia melirik segmen lain selain mahasiswa. “Ada peluang untuk karyawan perkantoran,” kata Siswadi.

Untuk melayani urusan perut para karyawan kantoran itu, Siswadi lantas membuka cabang Rest Door di Jalan Gatot Subroto. Tak hanya itu, ia juga membuka enam gerai lagi yang tersebar di Pamulang, Pondok Gede, dan di beberapa tempat di wilayah Jabodetabek lainnya. “Total ada tujuh cabang yang saya buka dalam setahun,” kata Siswadi

Dewi Fortuna memang lagi berpihak pada Siswadi. Pendapatan tujuh restoran itu sesuai dengan harapan Siswadi. Walaupun keuntungan yang ia kutip relatif kecil, Siswadi berharap perputaran uang dari banyaknya pelanggan. “Harga murah serta tempat yang nyaman akan membuat orang kembali lagi makan ke tempat kami,” jelas Siswadi.

Dari setiap restoran, Siswadi bisa mendulang omzet minimal Rp 2 juta per hari. Artinya, dalam sebulan tujuh restoran itu bisa mendatangkan omzet hingga Rp 420 juta.

Setelah usaha bimbel dan restoran menemukan jalan terang, Siswadi mengaku tidak mau muluk-muluk. Tahun ini, ia hanya ingin fokus mengembangkan bisnis yang ada. “Restoran ini baru setahun, kami kembangkan dulu” kata anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Dalam mengembangkan bisnis, Siswadi memiliki satu niat yaitu membahagiakan sang ibu. Ia bilang, perjalanan hidup yang ia alami selama ini tidak lepas dari motivasi yang diberikan oleh sang Ibu. “Sumber semangat bisnis itu paling utama adalah keluarga,” kata Siswadi yang sedari kecil ditinggal pergi oleh sang Ayah.

Selain sukses bikin usaha sendiri, pria yang berusia 27 tahun itu sukses menyelesaikan kuliah. Dengan meraih gelar sarjana, ia juga bisa merealisasikan cita-cita keluarga. “Sebelumnya di keluarga saya tidak ada satu pun yang bisa melanjutkan kuliah,” tutur Siswadi.

Kebahagian Siswadi juga tercukupi saat ia berhasil menemukan sang Ayah yang telah meninggalkan dia sejak ia berusia lima tahun. Siswadi mendapat informasi tentang keberadaan sang Ayah dari salah seorang tetangga di kampung halaman. “Saya langsung mencari ke lokasi untuk membuktikan kebenaran informasi itu,” kata Siswadi.

Ternyata, ayah Siswadi menetap tidak jauh dari desa. Saat ditemui Siswadi, sang ayah sudah uzur. “Alhamdulillah, saya bisa menemukan beliau,” kata Siswadi yang kini bercita-cita ingin membahagiakan kedua orang tuanya itu. (Bambang Rakhmanto/Kontan)

PROGRAM PENJUALAN PULSA dan HP

Design Program

“Program Penjualan Pulsa dan HP” adalah program yang digunakan untuk penjualan pulsa dan HP untuk mempermudah penjual untuk mendata dan membuat laporan akhir data penjualannya.

Pertanyaan :

1.      Bagaimana cara menggunakan program ini?

Program ini sebenarnya berjalan sangat sederhana untuk penjualan pulsa dan hp, kita hanya menginput nomor yang akan di isi pulsa dan hanya menginputkan hp yang akan di jual. Dengan program ini semua data transaksi penjualan pulsa dan hp dapat di ketahui dan di buat laporan.

2.      Peralatan yang mana harus kita gunakan?

a.       Peralatan yang di gunakan yaitu button untuk menginputkan data semua pulsa dan hp yang akan di jual ke dalam program ini yang memiliki fungsi untuk mempermudah penjualan dengan menggunakan juga memiliki fungsi untuk menampilakn form hasil penjualan.

b.      Interface yang sederhana juga dapat mempermudah untuk pengoperasiannya dan warna yang mudah di lihat agar user bisa nyaman untuk berlama-lama di depan proram.

Profil Penjual  HP  dan Task Analisis

Dahulu dalam melakukan transaksi penjualan HP dan Pulsa masih menggunakan sistem yang manual, biasanya menghabiskan waktu dan tidak praktis untuk membuat laporan diakhir bulan dan tahun.

Setelah adanya program ini yang bernama Program Penjualan Pulsa dan HP ini, semua bentuk laporan dapat efisien dn praktis. Semua data yang di inputkan akan masuk ke data base kemudian akan mudah untuk pengecekan stock HP dan pulsa yang akan dijual, sehingga otomatis akan lebih menhemat waktu karna semua proses dilakukan secara komputerisasi.

Analisis

Penjual Pulsa dan HP (User) lebih menyukai :

1.      Program yang sederhana dan interface yang mudah di pahami dan dijalankan.

2.      Dapat di buat laporan penjualan setiap bulan dan tahun

Tentang Program Program Penjualan Pulsa dan HP :

Dihalaman utama terdiri dari beberapa menu untuk menginputkan data HP, Data Pulsa, Penjualan HP dan Penjualan Pulsa. Pada bagian ini juga terdapat tanggal yang berfungsi untuk membuat laporan seluruh, perhari dan per periode.

1234

Kemudian di inputkan datanya pada Data HP

Untitled

Untuk dapat menginput master HP klik tombol master HP

3

Setelah menginputkan Data HP, sekarang tinggal Data Pulsa

24

Untuk dapat menginput master Operator klik tombol master Operator

01

Pada Penjualan HP ketikan nama pembeli

21

Pada penjualan pulsa di isi seperti ini

32

Untuk menampilkan laporan penjualan secara keseluruhan klik tombol keseluruhan, kemudian OK

41

Untuk laporan perhari

51

Untuk per periode

61

Kesimpulan

Program penjualan pulsa dan HP ini memiliki fungsi untuk melakukan laporan lebih teratur dan tertata sehingga dapat maksimal dalam bekerja dan menghemat waktu serta mudah meng operasiannya.

WINAMP vs AIMP

WINAMP

Winamp adalah suatu pemutar media buatan Nullsoft, yang sekarang merupakan suatu cabang Time Warner. Winamp merupakan perangkat lunak freeware atau shareware multiformat yang skinnable.

Winamp pertama diluncurkan oleh Justin Frankel pada tahun 1996. Pengembangan Winamp terkini mendapat pujian dari Ben Allison (benski), Will Fisher, Taber Buhl, Maksim Tyrtyshny, Chris Edwards dan Stephen (Tag) Loomis.

Pada tahun 2005, Winamp berkembang dari 33 juta pemakai bulanan sampai lebih 57 juta pengguna bulanan.

Affordances :

Semua tombol yang terdapat pada WINAMP sudah  menggambarkan bagaimana cara tombol ini berfungsi untuk menjalankan audio, seperti pada tombol play untuk menjalankan suatu lagu.

Causality :

Setiap kali kita mengklik tombol pilihan yang ada akan berjalan sesuai fungsi nya, pada Winamp memiliki menu yang cukup lengkap.

Visible constraints :

Pada  menu Winamp menggunakan simbol-simbol yang umum di gunakan oleh software pemutar audio, sehingga user tidak perlu lagi mempelajarinya.

Mapping :

Simbol yang di tekanan pada tombol mengirim pesan sesuai perintah tombol,  setiap tombol terdapat penjelasannya dan fungsi yang berbeda-beda.

Positive transfer :

Mudah di gunakan karena aplikasi winamp ini sangat mudah di pahami dan sangat populer di gunakan.

Model konseptual :

Mudah dipahami serta dapat bisa digunakan semua OS

AIMP

AIMP merupakan audio player gratis (freeware) yang dibuat oleh mas Artem Izmaylov yang berkewarganegaraan Rusia. Maka sebenarnya nama dari audio player ini, AIMP, merupakan kepanjangan dari Artem Izmaylov Media Player. Pada mulanya AIMP adalah sebuah proyek pribadi yang dilakukan oleh mas Artem yang pada akhirnya dia melahirkan AIMP classic yang kemudian berubah menjadi AIMP/AIMP2 Keunggulan dari AIMP sendiri tedapat dari kapasitasnya sebagai software music yang terinstall berbanding jauh dengan pesaing lainnya, diantaranya :

1. Cepat
2. Ringan
3. Simpel
4. Fleksibel
5. serta Fungsional

AIMP hampir mendukung semua format bentuk audio dari mp3 yang biasa kita setel sampai yang asing bagi saya yaitu UMX.
AIMP dapat meningkatkatkan performa sound/dengan kata lain sound akan bertambah keras dibandingkan jika kita pakai winamp Selain itu juga AIMP menghasilkan suara audio yang jernih dengan pemakaian sumber tenaga yang minim berikut gambar perbandingannya

Affordances :

Hampir sama dengan winamp menunya terlihat sederhana bahkan lebih simpel dan menarik

Causality :

Pada bagian tombo terlihat lebih sedikit tetapi memiliki fungsi yang sama seperti pada winamp.

Mapping :

Bentuk aimp ini terlihat sederhana tetapi menarik, dengan tambahan tombol yang memudahkan untuk memutar audio

Visible constraints :

sama dengan photosop yaitu :

Semua menu pada gimp menggunakan kata – kata yang mudah dipelajari oleh user,,

sehingga user tidak perlu lagi mempelajarinya,,

Positive transfer :

Walaupun aimp belum terlalu familiar tetapi sangat mudah cepat, ringan, simpel dan fleksibel
untuk di gunakan dan mudah dipelajari.

Model konseptual :

Butuh sedikit penyesuaian dan latihan karena posisi tombol yang berbeda tetapi fungsinya tetap sama.